Minggu, 26 Maret 2017

Akan Indah Setiap WaktuNYA

Namaku Yusni Novalin Simbolon. Sekarang aku seorang mahasiswa yang berkuliah di Universitas Gadjah Mada semester 6. Mungkin tidak sedikit orang yang mendengar dan mengatakan aku seorang yang hebat bisa duduk di suatu universitas yang menjadi dambaan semua orang. Di balik pujian itu aku bersyukur bisa duduk di bangku universitas ini bukan karena aku orang hebat, tetapi karena anugerah Tuhan, dukungan orang tua, dukungan orang-orang terdekat dan yang pastinya dukungan guru yang sangat bersemangat bahkan merelakan setiap detik waktunya untuk melihat kesuksesan murid-muridnya. Dari kecil aku punya harapan yang banyak bahkan bisa tidak terhitung lagi. Dulu sampai sekarang setiap harapan itu aku sebutkan di dalam doa-doaku, karena aku mengikuti kata seseorang yang mengajar sekolah minggu dimana kebetulan aku adalah seorang  umat kristiani. Dia mengatakan bahwa setiap harapan yang kita sebut dalam doa akan di dengarkan Tuhan dan dia akan mengabulkan setiap doa-doamu. Awalnya aku tidak percaya karena setiap harapanku itu terkadang tidak ada jawabannya sama sekali. Semakin aku beranjak dewasa dan semakin aku mengenal kehidupan yang terasa pahit. Aku mulai mengerti bahwa jawaban setiap doa itu memiliki setiap proses dan diikuti dengan usaha dan juga berdoa.
Di dalam salah satu harapanku itu sudah terjawab dan sudah kulihat dengan nyata bahwa aku bisa duduk di salah satu kursi universitas yang dibanggakan semua orang. Awalnya aku tidak menyangka bisa duduk di bangku universitas ini. Kalau dilihat dari kondisi keluarga, bisa di bilang aku tidak punya harapan untuk bisa duduk di bangku perkuliahan, tetapi jawaban setiap doaku didengarkan oleh Tuhan. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan, dari keluarga yang bahagia dan mempunyai orangtua yang hebat yang sangat kukasihi.
Bercerita hidupku mulai dari kecil mungkin semua teman-teman juga punya cerita yang lebih menarik, lebih suram, atau bahkan yang lebih bahagia. Dari aku kecil bisa dibilang hidupku tidak mewah, dibalungi dengan keserhanaan yang apa adanya. orang tuaku selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur hingga sampai sekarang aku diperantauan ini kata-kata itu selalu diingatkan kepadaku. Hidup mungkin semakin lama semakin sulit, tetapi kalau dijalani dengan senyuman dan hati yang percaya mungkin tidak akan sesulit yang kita pikirkan. Kata-kata itu terkadang terngingan-ngiang di kupingku, tetapi kadang aku tidak bisa menjalani sesuai dengan hal tersebut.
Dulu aku berpikir sebelum kuliah, hidup di perantauan pasti bahagia, senang, lepas dari setiap beban, tetapi pemikiran itu salah. Di perantauan aku mengenal kehidupan yang baru, keluarga yang baru, semuanya serba baru. Tantangan semakin banyak bahkan diri sendiri bisa menjadi tantangan buat kita.
Terkadang aku mengeluarkan air mata, menangis sendiri di kamar, bahkan terkadang aku merasa hati ini sangat perih. Kadang aku menyesali setiap kehidupan yang aku punya. Aku iri dengan semua orang yang memiliki lebih dari apa yang tidak ku punya, aku benci dengan orang yang tidak pernah mensyukuri apa yang dia punya bahkan terkadang meminta lebih dengan seenaknya begitu saja. Aku sering berpikiran hidup ini tidak adil, Tuhan tidak adil. Hidup dengan menciptakan si kaya dan si miskin hanya membuat kericuhan, kedengkian, dan bahkan bisa lebih dari itu. Tapi setiap detik aku berpikir seperti itu, setiap detik itu pula aku sadar bahwa aku salah. Aku tidak pernah memikirkan orang yang lebih menderita dari diriku sendiri bahkan yang sama sekali tidak bisa merasakan apa yang kurasakan. Aku tahu setiap yang ada di dunia ini hanya sementara dan hanya titipan Tuhan kepada kita, tapi kenapa setiap titipan itu tidak pernah memiliki keadilan??? Kenapa setiap orang yang mendapatkan titipan lebih itu tidak bisa mensyukurinya????
Selama di perantauan banyak kehidupan, banyak pengalaman, banyak cobaan yang ku hadapi dan bahkan yang kualami sendiri. Mulai dari seorang teman dan bahkan orang-orang terdekatku. Mungkin di telingaku tidak asing lagi kalau kehidupan ini seperti film-film di FTV. Diperantauan ini aku masih menemukan banyak sifat-sifat orang yang masih menyombongkan apa yang dia miliki. Aku sering berpikir dan berkata dalam hatiku sendiri ketika aku sedang kesal, kecewa dan bahkan sedih. Diperantauan ini masih banyak sekali orang yang berteman dengan orang yang setara dengan dia. Bisa dibilang contoh kecilnya seperti ini, di kampus mungkin kamu punya banyak teman, tapi itu terkadang bisa dibilang hanya sebatas teman bahkan tidak lebih. kulit dan rambut sama tetapi hati siapa yang tahu. temanmu yang punya kepintaran yang bisa diandalkan, punya apa saja yang bisa di beli dengan uang, bahkan tidak punya apa-apa sama sekali tetapi dia punya kecantikan dan ketampanan yang bisa dibanggakan, itu semua menjadi modal untuk bis bertahan di lingkup orang yang baru. Itu semua hanya menjadi motivasi buat kedepannya agar lebih mengenal hidup dan mengenal diri sendiri.
Aku selalu ingat dengan perkataan orang tuaku hidup tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya. Hidup tidak selamanya di atas dan tidak selamanya berada di bawah. Jika kita sudah memulainya jangan pernah mundur. Di saat aku down itu hal yang bisa membuatku untuk bangkit. Aku selalu percaya ketika aku berdoa, ketika aku yakin dan berharap semua itu bisa terjadi dan menjadi lebih baik. Mungkin sekarang kita berada di bawah, tetapi kehidupan kedepannya siapa yang tahu. Tuhan tidak pernah tidur, dia memberikan cobaan karena kita menjadi orang pilihannya yang mampu untuk menghadapi tantangan itu. Aku selalu yakin dan percaya semua akan indah pada waktunya karena aku tidak pernah memahami apa yang kualami. Setiap cobaan datang begitu saja dan akan selesai dengan begitu juga. Aku merasa sangat sulit melalui itu semua tapi aku selalu berdoa dan percaya bahwa di balik langit yang gelap dan mendung kelabu ada terang yang selalu menerangi dan menemani. DIA tidak pernah meninggalkan hambanya dalam keadaan apapun.
Mungkin kita tidak pernah tahu apa yang selalu direncanakan Tuhan kepada kita, apa yang akan terjadi besok dan bahakan setiap detik dari kehidupan ini, tetapi yakin dan percaya kalau Tuhan tidak pernah meninggalkan sekalipun kita masuk dalam jurang yang dalam DIA selalu ada untuk kita, menolong kita, merangkul, dan menopang. 

Senin, 20 Maret 2017

CERITAKU

Kehidupan memang banyak lika-likunya yang tanpa sengaja tidak pernah kita tahu sebelumnya. Kehidupan seakan-akan mencekam banyak orang bahkan terkadang diri kita sendiri jika kita lengah menghadapinya. Kesenangan itu hanya sesaat, sementara, dan hanya mampir. Terkadang aku berpikir mampukah aku menghadapi kehidupan ini kelak? sampai batas manakah kemampuanku dalam menghadapi kehidupan ini? Hanya derai air mata di pipi yang selalu mengalir terus menerus. Aku berdoa sepanjang waktu agar aku dimampukan dalam menghadapi semuanya, tetapi selama aku berdoa selama itu juga masalah dan cobaan berturut-turut menghinggapiku. Aku sempat berpikir untuk menyalahkan Tuhan, untuk menyalahkan diriku sendiri dan bahkan berputus asa tanpa punya pemikiran panjang. Ketika aku berputus asa aku lupa semuanya, aku lupa pengorbanan kedua orangtuaku yang dengan bercucuran keringat, menahankan teriknya matahari, menahankan hujan, Mereka orang tua yang kuat, punya semangat yang tinggi, walaupun di balik semangat itu banyak keluhan yang tidak bisa diungkapkan satu persatu.
Aku sadar setiap tindakan kebodohanku itu salah besar, Tuhan benci. tetapi terkadang diluar kendali aku tidak bisa mengontrol keegoisan, emosi,dan amarahku. Terkadang aku bertanya dengan Tuhan kenapa dia selalu memberikan cobaan yang begitu berat kepadaku, kenapa setiap masalah selalu datang untukku? tetapi jawaban itu sudah terjawab sebelum aku menyampaikannya. Aku tahu dia membisikkan ketelingaku bahwa dia memilihku karena dia yakin aku mampu. Disaat aku terjatuh, dia selalu mengangkatku, dia selalu menopangku bahkan dalam keadaan terpuruk sekali pun. Aku yakin dia kekuatan yang tidak pernah aku dapat darimana pun.

Sabtu, 16 Januari 2016

Kehidupanku

Namaku Yusni Novalin Simbolon. sekarang saya duduk di bangku perkuliahan di Universitas Gadjah Mada. Saya mengambil jurusan Teknik Pertanian di Fakultas Teknologi Pertanian. Puji Tuhan aku bisa duduk di bangku perkuliahan karena adanya bantuan beasiswa yang bisa memenuhi semuanya.
Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jawa yaitu dengan teman-teman saya. Saya beangkat ke Jogja tanpa dampingan dari orangtua karena adanya masalah dalam ekonomi dulunya. Kalalu di tanya soal itu sebenarnya sangat sedih karena melihat teman-teman yang datang dengan orangtuanya. tapi ya sudahlah apa boleh dikata. Semua itu punya rancangan yang indah.
Di Jogja saya ngekost dengan teman-teman SMA dulu. Tepatnya saya tinggal di daerah Klebengan,jln.manggis.CT.VIII.NO.8A Ya namanya jauh dari orang tua itu tidak seenak yang kita bayangkan. Jauh dari orang tua itu menguji kita kesabaran,kemandirian, dan kedewasaan. Semua masalah bisa berdatangan darimana aja tapi ya bagaimana kita menanggapinya. Terlalu sabar juga kadang membuat kita sering di injak-injak karena manusia yang kita hadapi itu manusia yang beragam-ragam. Sedih hati ini kalau di perantauan kita berhadapan dengan orang yang lebih dari cukup dengan kita. Jogja itu merupakan kota pelajar yang sama sekali disana tidak ada angkot, jadi kalau kita mau bepergian harus menggunakan motor, taxi atau trans jogja. Banyak masalah yang kuhadapi selama disana tapi aku tetap menghadapinya dengan sabar dan bawa dalam doa. terkadangan masalah itu datang ketika kita sama sekali tidak ikut terkait di dalamnya dan